
Kisah mengenai Desa Sungai Durian di Kecamatan Banua Lawas, Kabupaten Tabalong, tidak dapat dilepaskan dari narasi besar peradaban suku Banjar di wilayah Tabalong Hulu Sungai. Wilayah Banua Lawas sendiri merupakan salah satu pemukiman tertua di Kalimantan Selatan yang sudah eksis sejak zaman Kerajaan Nan Sarunai hingga Kesultanan Banjar.
Berikut adalah rekonstruksi sejarah dan asal-usul Desa Sungai Durian berdasarkan penuturan lisan dan latar belakang geografisnya:
1. Asal-Usul Nama: Sang Primadona Hutan
Sesuai dengan namanya, Sungai Durian diambil dari dua unsur alam yang mendominasi wilayah tersebut pada masa lampau:
Sungai: Wilayah Banua Lawas dibelah oleh aliran sungai yang menjadi urat nadi transportasi dan kehidupan.
Durian: Konon, di bantaran sungai yang mengalir di desa ini, tumbuh deretan pohon durian hutan yang sangat lebat dan berbuah manis. Para pedagang dan pengembara yang melintasi sungai sering singgah untuk mengambil buah durian, sehingga tempat ini dikenal dengan sebutan "Sungai Durian".
2. Bagian dari "Banua Lawas" (Tanah Tertua)
Desa Sungai Durian berada di wilayah Banua Lawas (artinya: Kampung Lama). Secara historis, kawasan ini adalah pusat peradaban Hindu-Buddha sebelum masuknya Islam.
Di dekat wilayah ini terdapat Masjid Pusaka Banua Lawas, yang dibangun di lokasi yang dulunya merupakan tempat pemujaan suku Dayak Maanyan.
Penduduk Sungai Durian secara silsilah merupakan percampuran antara suku Dayak lokal (Maanyan/Lawangan) yang kemudian memeluk Islam dan berakulturasi menjadi suku Banjar (Banjar Hulu).
3. Era Kesultanan Banjar dan Pertanian
Pada masa Kesultanan Banjar, wilayah Sungai Durian dikenal sebagai daerah agraris yang subur. Karena lokasinya yang strategis di dekat aliran sungai, desa ini menjadi pemasok hasil bumi.
Sistem "Be-huma" (bersawah) dan perkebunan karet menjadi mata pencaharian utama yang turun-temurun hingga sekarang.
Sungai bukan hanya jalur transportasi, tapi juga tempat berlangsungnya interaksi sosial dan perdagangan barter hasil hutan.
4. Masa Perjuangan dan Kolonial
Masyarakat Sungai Durian dan Banua Lawas secara umum dikenal memiliki semangat religius yang kuat. Pada masa penjajahan Belanda, wilayah ini menjadi salah satu basis pendukung perjuangan dalam Perang Banjar. Para tokoh agama dan pemuda setempat sering kali terlibat dalam perlawanan gerilya melawan patroli Belanda yang mencoba masuk ke pedalaman Tabalong.
5. Perkembangan Administrasi
Setelah kemerdekaan Indonesia, seiring dengan pembentukan Kabupaten Tabalong pada tahun 1965, Sungai Durian secara resmi ditetapkan sebagai salah satu desa di bawah naungan Kecamatan Banua Lawas.
Desa ini terus berkembang dari pemukiman tradisional pinggir sungai menjadi desa yang lebih terbuka dengan akses jalan darat.
Meskipun modernisasi masuk, budaya Gotong Royong dan tradisi keagamaan (seperti perayaan hari besar Islam di masjid-masjid tua) tetap terjaga dengan sangat kental.
Ciri Khas Desa Sungai Durian Saat Ini:
Geografis: Didominasi oleh lahan basah/rawa dan perkebunan.
Budaya: Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Banjar dialek Hulu yang khas.
Religiusitas: Kehidupan masyarakat sangat dipengaruhi oleh ajaran Islam, terlihat dari banyaknya majelis taklim dan aktivitas di langgar/masjid.
Catatan: Sejarah lisan seringkali memiliki variasi di setiap keluarga tokoh adat. Jika Anda memerlukan data spesifik mengenai daftar nama kepala desa pertama atau tahun persis pemekaran wilayahnya, saya sarankan untuk memvalidasi ke Kantor Desa Sungai Durian atau Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tabalong